Maulid Nabi suci Muhammad saw dan Santri Teladan

EMBUN JUM’AT

Penulis: Dr. Ja’far Assagaf, MA

Dosen UIN SUKA Yogyakarta  | Sekretaris Umum Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia   |  Wakil Katib Syuriah PCNU | Wakil Ketua bidang Pendidikan Agama dan Budaya Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia-Sukoharjo Jawa Tengah | email:  jafar.assagaf@uin-suka.ac.id


Adakah hubungan keduanya; antara maulid dengan santri ? agaknya itu yang ada dalam benak sebagian besar pembaca. Sebelum menelusuri hubungan tersebut, tulisan ini memiliki konteks yang hampir bersamaan dari aspek waktu sebab Maulid Nabi suci saw jatuh pada tanggal 19, sementara hari Santri pada tanggal 22 di bulan Oktober 2021.

Masyarakat Indonesia sudah sejak lama merayakan maulid dan setiap bulan ini terlihat begitu semarak momen untuk menapaki sejarah hidup pembawa risalah Allah swt tersebut. Kata maulid (مولد)  berarti kelahiran, maka maulid Nabi suci saw adalah kelahiran Nabi suci saw; the prophet’s brith day (Hans Wehr). Sebagian masyarakat menyebut dengan maulud (مولود) yang berarti yang dilahirkan; terlahir atau bayi yang baru dilahirkan, baik maulid maupun maulud sebenanrya dapat digunakan, namun agaknya lebik tepat disebut dengan maulid yaitu kelahiran atau hari lahir Nabi suci saw.

Rasulullah suci saw hadir di muka bumi membawa risalah Allah swt sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya. Secara mendasar risalah tersebut mengatur hubungan manusia dengan Allah swt, hubungan manusia dengan sesama maupun lainnya agar manusia selain melaksanakan kewajibannya juga memperoleh hak-haknya untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pijakan misi Rasul suci saw dari akhlaq; inilah konsideran diangkatnya Nabi suci Muhammad saw sebagai seorang rasul dan nabi menurut M. Quraish Shihab sebagaimana terbaca dalam QS: al-Qalam; 4. Oleh sebab akhlaq menjadi hal prinsip dalam menyampaikan syari’ah, maka Nabi suci saw dinobatkan sebagai orang yang diteladani oleh siapapun yang menyatakan dirinya beriman (renungkan QS: al-Ahzab; 21). Dalam konteks inilah Nabi suci saw menyatakan dalam riwayat Muslim:

إني لم أبعث لعانا وإنما بعثت رحمة …..

Artinya: “sungguh aku tidak diutus sebagai pelaknat, dan bahwasanya aku diutus (sebagai pembawa) rahmat.”

Melalui akhlaq, Nabi suci saw menyampaikan risalah dengan proses pembelajaran kepada semua umat, dan semua kaum Muslim secara substansi adalah santri-santri dari Nabi suci saw. Contoh keteladanan dari pembelajaran merupakan hal yang dilakukan oleh Nabi suci saw kepada sahabatnya. Dalam salah satu hadis riwayat Abu Daud (w. 275 H) disebutkan bahwa Nabi suci saw bagaikan orang tua terhadap anaknya yang berfungsi untuk memberikan pembelajaran kepada mereka. Disini konteks pendidikan antara guru dengan santri atau murid memiliki hubungan yang sangat kuat dari aspek psikologi, sebab bila pendidik adalah orang tua, sudah seharusnya secara alami orang tua pasti memiliki rasa kasih sayang dalam mendidik anak mereka.

Santri biasa diidentikkan dengan orang yang mendalami agama Islam; atau orang yang shaleh (kbbi online). Santri adalah murid meski secara khusus pada awalnya santri lebih ditujukan pada mereka yang menuntut ilmu agama, namun pada perkembangan selanjutnya santri juga mendalami ilmu umum dan bahkan banyak dari mereka yang ahli dalam berbagai bidang, dan ini tentu sesuai dengan pesan dan wasiat Nabi suci saw untuk selalu menuntut ilmu.

Dalam konteks kesalehan santri yang meneladani Nabi suci saw tidak hanya berada di puncak gunung; menyendiri, tidak peduli dengan problematika sosial, atau bahkan acuh tak acuh dengan kebenaran. Dalam hal inilah fungsi kesalehan santri melalui teladan dari diri Nabi suci saw akan tetap berjuang mempertahankan haknya sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama (mereka adalah santri-santri Nabi suci saw) ketika dijajah. Resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Hadrah Syeikh Hasyim al-Asy‘ari (w. 1366 H/1947 M) merupakan konsep dan praktik sekaligus untuk membuktikan kalau santri tidak diam pada siapa pun yang ingin merebut hak-hak mereka sebagai bangsa yang berdaulat. Oleh sebab itu, momen hari santri kali ini menghadiahkan tiga hal pada pada bangsa Indonesia yaitu; pertama, keteladanan dari Nabi suci saw dalam hal apapun berdasarkan konteks; kedua, sejarah perjuangan santri dan ketiga; cinta tanah air merupakan tekad, jalan dan hasil yang harus terus dipertahankan.

 Oleh sebab itu, di kedua momen tersebut (hari maulid dan hari santri) amat riskan terdengar di beberapa waktu yang lalu ada ungkapan salah satu pengajar  kalau cinta tanah air berasal dari missionaris. Menurut penulis, pengajar tersebut mungkin belum merambah maksud (ma’aniy) dari hadis-hadis dan konsep ulama tentang cinta tanah air. Sebab pemahaman sebuah hadis tidak hanya berkutat pada teks tapi juga konteks yang sebenarnya benar-benar terjadi. Disebutkan dalam shahih al-Bukhari dari sahabat Anas ra bahwa saat kembali dari bepergian, maka Nabi suci saw melihat dinding-dinding (rumah) kota Madinah, mempercepat laju untanya dan jika saat berada d atas unta, menggerakkannya karena cintanya pada kota tersebut. Ibn Hajar (w. 852 H/1449 M) menyatakan bahwa hadis tersebut menunjukkan keutamaan kota Madinah, dan disyari’atkan mencintai tanah air (حب الوطن) dan kangen/rindu padanya. Bukankah pernyataan Ibn Hajar secara historis lebih dahulu 434 tahun sebelum pernyataan Brutus al-Bustani (w. 1883 M) ? dan bukankah pernyataan pakar hadis tersebut melalui kata masyru’iyyah (مشروعية حب الوطن) dalam hadis menunjukkan sesungguhnya bahwa tekad hati, dan praktek cinta tanah air telah menjadi bagian dari kehidupan kanjeng Nabi suci saw yang menggerakkan perjuangan santri melalui resolusi jihad ? dan tentu ini juga bukan bagian dari mencari-cari justifikasi, tetapi hal itu memang benar-benar ada praktek tentang cinta tanah air dari diri Nabi suci saw dalam hadis tersebut.

wa Allâhu a’lam bi al-shawâb …

Leave a comment

Tentang Kami

alkhairaat-ternate.or.id adalah situs resmi milik Alkhiraat Cabang Kota Ternate, sebagai media silaturahmi dan dakwah dengan menyajikan informasi seputar pendidikan, dakwah dan sosial, serta mempromosikan tulisan-tulisan rahmatan lil-alamin yang berakar pada kearifan tradisi

Hubungi Kami

Alamat: Jl. Kakatua, No.155, Kelurahan Kalumpang, Ternate Tengah, Kota Ternate, Provinsi Maluku UtaraTelepon: (0921) 312 8950email: alkhairaat.ternate@gmail.com